Allah 'Azza Wa Jalla Heals Me
"Kriinggg kriinggg" Telfon berdering
"Genk Sepupu, Hanif sakit lagi nih, tolong pada kesini dong bantuin" Ucap kemungkinan salah satu sepupu di grup. "Hanif, bangun! sadar!" Ujar salah satu sepupu aku. "Kayanya kita perlu telfon dokter lagi nih dia balik lagi (kambuh)!" Ujar salah satu sepupu aku juga.
Januari 2020....
Tahun itu aku bersuka cita menyambut hari-hari baru. Itu terjadi dikarenakan pada bulan Agustus hingga Desember 2019 aku sangat sibuk untuk mengurus perjalanan ke Australia, menjalani konferensi di Solo, dan ikut Mayoga Camp di MAN 3 Jogja. Tahun itu aku sangat bahagia karena bisa berbagi ilmu kebeberapa tempat ke murid-murid di beberapa tempat. Tahun itu adalah alhamdulillah tahun terakhir aku bisa menyelesaikan beberapa mata kuliah dan program-program kampus.
Di akhir tahun juga aku sempat menyusun bersama tim untuk KKN 60 UII, dan perjalanan menuju Jepang. Sesungguhnya mungkin pada saat itu aku merasa sangat senang karena cita-cita selama perkuliahan terwujud untuk pergi ke beberapa negara. Namun, jika aku mikir ulang lagi, mungkin aku merasa terlalu overconfidance dan overhappy sehingga aku melupakan Tuhanku, Allah 'Azza Wa Jalla.
Januari 2020, aku bersiap menuju Jepang. Aku menghabiskan waktu sekitar 5 hari disana dan perjalanan secara lengkap sudah aku tulis di tulisanku sebelumnya. Kalau boleh jujur, aku sudah mulai terjadi keanehan pada tubuhku. Aku sering merasa bad mood di Jepang, bisa jadi ada dua alasan disini. Yang pertama, aku baru saja gagal nikah dengan seorang wanita dan yang kedua ini adalah mungkin tanda-tanda dari sebuah perjalanan dan kejadian yang sangat besar terjadi.
"Kok si A gitu ya? kok si B begitu ya sama aku? kok si C tidak menghubungi diriku. Ah kenapa ya" gumanku di Jepang. "YaAllah, kenapa saya khawatiran banget sama sesuatu?" gumanku lagi dibeberapa kesempatan. "Ah, Aku unggah instastory ga ya? ah gausah deh" guman ku di beberapa momen. Ini menurutku adalah sebuah pertanda karena biasanya seorang Hanif jika tertarik sesuatu dia bakal unggu instastory di IGnya. Aku sering beberapa kali membaca do'a untuk diri sendiri pada saat di Jepang karena rasa khawatir ku yang tinggi atas sesuatu yang sesungguhnya tidak penting.
Di Jepang, aku hanya komunikasi kepada teman-teman sekedarnya saja. Aku juga bingung, kenapa itu bisa terjadi. Satu kejanggalan lain adalah tubuhku seperti tidak menjadi seperti sedia kala yang biasanya suka ngobrol dan menyapa teman-teman dekat. Sebenernya bukan negara Jepangnya yang tidak menarik, hanya saja mungkin saat itu aku sedang mengalami tanda-tanda. Allah sudah memberi sinyal untuk lebih hati-hati dalam bersikap.
Kembali ke Indonesia....
Aku mendarat di Soekarno Hatta International Airport alhamdulillah berjalan perjalanan lancar sampai rumah sekitar jam 2 malam karena pesawat berangkat pukul 7 malam. Perjalanan dari Osaka, Jepang secara keseluruhan mengajariku banyak hal terutama tentang kedisiplinan, kehati-hatian, kerja sama, dan bonding aku dan dosen yang cukup baik.
Setiba di rumah, aku langsung beristirahat sembari ngobrol dengan orang tua dan adik tentang perjalananku tersebut. "Gimana mas Jepang?" tanya ibu. "Alhamdulillah bu seru, masyaAllah aku ketemu mualaf Jepang yang sangat baik. Dia mentraktir kami dan menguide kami kemana pun" ucapku. "Yaudah dilanjut tidur, Mas" ucap ibu dan bapakku.
Di KKN UII 60.
Dua hari berikutnya, aku di telfon teman sesama unit untuk segera berangkat kembali ke Jogja untuk KKN 60 UII. Setiba di Jogja, aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Aku, tim, dan temen-temen PBI UII bersama-sama menuju Kebumen. Sejauh perjalanan berangkat ini, aku merasa seperti biasa saja belum ada sinyal atau tanda-tanda sesuatu besar akan terjadi tidak seperti pada saat aku di Jepang yang saya merasa sudah mulai keanehan terjadi. Kami bekerja sama, bahu membahu membawa perlengkapan, membuat proker dengan diskusi, sholat berjamaah, mengajar TPA seperti KKN pada umumnya disana. Satu memori yang saya hal yang positif saya ingat adalah soal kerja sama tim antar tim PBI UII dan antar sesama teman unit. Di tim PBI UII, saya aktif ikut membuat video, mengajar anak SD, mengajar TPA, dsb. Saya tak lupa juga saling mengobrol, bercanda gurau, menelfon anak PBI UII yang beda tempat seperti sahabat (yang semoga Allah masukan kedalam surga) yaitu Syahrul Yaqin rahimahullah.
Kedekatan kami sesama tim PBI UII mulai sedikit retak, sebabnya oleh aku sendiri yang gagal memposisikan diri. Pada saat itu aku merasa memiliki prinsip yang berbeda dari teman-teman. Aku di tegur, namun aku tetap kekeuh pada pendirian tersebut. Disaat itu mulai ada tanda-tanda dari sebuah penyakit itu. Tanda-tanda tersebut mungkin aku tidak bisa ceritakan secara gamblang.....
Di suatu malam yang sejujurnya cukup sejuk,
Aku bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat maghrib hingga pada saat setelah itu aku kehilangan kesadaraan! "Hanif bangunnn! astaghfirullah, kamu kenapa?" ujar teman-teman
Jujur sampai saat ini aku tidak bisa melupakan kejadian ini. Maaf belum bisa cerita secara gamblang namun bisa dibilang AKU TANTRUM SELAMA SEMALAMAN!
Laksana petir disiang bolong, aku berjuang melawan "diriku" sendiri. alhamdulillah, subuh sudah datang aku bisa sembuh. Saat itu aku sedikit sadar bahwa banyak teman-teman sejati ada disekelilingku. Beberapa temen PBI UII ku ada, dan beberapa temen satu unit ada juga.
Malam itu aku semalaman begadang. Aku bisa dibilang sadar, bisa dibilang tidak sadar juga. Super bingung! tapi hanya Allah yang membantu ku malam itu. MasyaAllah.
Subuh datang
Aku dibangunkan teman ku (Andi) untuk sholat subuh. Setelah sholat subuh, beberapa sahabat PBI UII datang seperti Fatchan dan Yaya. Mereka membantuku untuk sadar dan juga membuatkan minum. Semoga Allah balas kebaikan kalian Can, Ndi, Ya! Pagi itu juga aku kedatangan dosen pembibing lapangan untuk menanyakan kondisi ku. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Aku di dukung banyak orang disini.
Sore menjelang maghrib salah satu temanku berkata " Nif kamu mandi dan sholat Maghrib sana!"
Sesudah maghrib......
Tiba-tiba
Sesudah maghrib aku kembali tantrum. Wah, sungguh malam itu sungguh kacau. Semua orang bahu membahu mencari solusi untuk diriku. Akhirnya, setelah sholat Isya semua orang di unit ku bersama teman-teman PBI UII ku membawa ku kembali ke Jogja bersama mobil yang saya yakin mereka patungan untuk membawa ku pulang ke Jogja. Fatchan, Yaya membawa beberapa barang penting dari ku. Situasinya sangat kacau! hingga aku bangun bangun pukul 2 malam karena sudah sampai Jogja kembali. YaAllah, berarti dugaan ku selama ini akan terjadi sesuatu yang besar itu terjadi!
Kembali kekota pelajar, aku dirawat dirumah sepupu tercinta (Mba Yanti dan Mas Ashar) untuk dilakukan pengecekan. Namun, hasilnya belum begitu memuaskan. Pada akhirnya, aku dibawa kekota tanah kelahiran ku di Tangerang, Banten untuk di cek apa yang sebenernya terjadi.
TANGERANG 2020
"Kriinggg kriinggg" Telfon berdering
"Genk Sepupu, Hanif sakit lagi nih, tolong pada kesini dong bantuin" Ucap kemungkinan salah satu sepupu di grup. "Hanif, bangun! sadar!" Ujar salah satu sepupu aku. "Kayanya kita perlu telfon dokter lagi nih dia balik lagi (kambuh)!" Ujar salah satu sepupu aku juga.
Mungkin itu lah salah satu kegaduhan yang terjadi di keluarga saya pada saat saya sampai di Tangerang. Aku kembali tantrum pada malam dimana aku baru sampai di Tangerang yang mana pada saat itu mengharuskan aku dibawa kerumah sakit RS DHARMAWANGSA
Pagi itu
Posisi setelah disuntik untuk penenang malam nya, aku langsung di bawa ke RS Dharmawangsa. Posisi baru bangun dan disuruh sholat subuh, aku langsung dibawa dengan keaadan yang sangat sangat mengantuk. Bangun-bangun, aku sudah tidur disalah satu kamar disana. YaAllah jujur, ini adalah momen dimana aku merasakan kondisi yang paling-paling rendah dalam hidupku.
Dirawat disana aku bertemu dengan berbagai macam karakter orang dengan berpenyakit mental. Jujur aku gemetar menulis cerita ini karena bisa dibayangkan, dalam hidupku ini adalah sekali lagi kondisi aku paling rendah. Aku dirawat dengan suster-suster, dokter kesayangan, psikolog, dan teman-teman seperjuangan yang masih oke mentalnya. Hmm, disana aku melakukan berbagai macam kegiatan seperti main pimpong, bercerita dengan salah satu perawat, bertemu teman seangkatan, dsb. Setiap harinya aku dikasih obat! obatnya dimana aku harus menyebutkan tanggal lahirku. Allahu akbar! aku masih ingat sampai sekarang tanggal lahirku, bukti mental dan otakku masih alhamdulillah bisa bekerja dengan baik meski ada yang perlu di perbaiki.
Yang masih ku ingat adalah aku di jenguk di minggu- minggu terakhir oleh sepupu hebat seperti Mas Aji, Mas Rio, Mba Ulfi, budeh kesayanganku yang sudah dipanggil oleh Allah subahanhu wata'ala (budeh Imung rahimahullah), budeh Tutik, Pakde Bas, Budeh Nin, Bapak ku, Mas Reza, dsb. MasyaAllah. Oh ya bagi yang mau tau dimana ibukku? ibuku dan adikku ditahan untuk bisa sabar oleh keluarga besarku. Ibuku tidak boleh melihatku demi bisa kuat. Ibuku menjengukku di hari terakhir aku disana. Oh ya, aku juga bertemu Mas Reno! perawat terbaik ku. Semoga Allah sehatkan beliau selalu!
Begitulah cerita awal mula penyakitku.
Ternyata aku divonis dokter terkena penyakit skizoprenia qodarullah. Kondisi dimana delusi, halusinasi terjadi pada saat itu.
Selang dua minggu aku dirawat, aku sangat senang sekali bisa keluar rumah sakit. Hari itu Pakde Bas, Budeh Imung rahimahullah, Budeh Nin, dan Ibu. membawaku keluar dari RS. Aku dibawa ke Rumah Makan favorit di Bintaro. Aku masyaAllah makan dengan lahap dan kenyang saat itu. Tak lupa, aku juga disuruh minum obat. Pulang dari rumah makan, aku stay dirumah Mas Aji. Disana aku dirawat oleh Pakde Darwis, Budeh Imung rahimahullah, dan Mas Aji. Ibu dan Bapak turut serta dalam merawatku. Adikku? dia tinggal dirumahku. Aku diberi makan, dikasih obat, diminta untuk produktif seperti menulis, dsb. Jujur kondisi badan sangat lemah pada saat itu, seperti lemas setiap saat. Aku mudah mengantuk. Tapi aku siasati dengan menulis apapun temanya. Oh ya, selama aku di rumah Mas Aji, aku benar-benar dirawat dengan baik (semoga Allah mudahkan seluruh urusan keluarga Mas Aji dan semoga Budeh Imung rahimahullah dimaafkan segala bentuk dosa-dosa). Selama 3 pekan sekali, aku juga kontrol ke salah satu dokter di RS. Aku juga diminta minum obat yang awalnya 3 kali dalam sehari dengan fokus penyembuhan otak. Kondisi badan saat itu masih sangat kaku, jalan masih sulit, dsb. Jujur aku tidak tahu menahu tentang penyakit ini sebelumnya. Aku hanya diminta kontrol ke RS dan dokter sebulan sekali.
SEKITAR JUNI 2020
COVID 19 Melanda Indonesia
Pada saat itu, aku diujung tanduk untuk segera menyelesaikan skripsi. Dengan kesulitan yang beraneka ragam seperti sulit mengtranslate, sulit menghapal, sulit public speaking, sulit mengingat, sulit konsentrasi dikarenakan efek dari penyakit ini tapiiiii..... Alhamdulillah, Allah bantu dengan bantuanNya. Aku di support untuk buat skripsi oleh dosen-dosen habat aku seperti Miss Astri dan Miss Intan. Maha Suci Engkau YaAllah. Aku lulus dengan predikat cumlaude di JUNI 2020! Teman-teman PBI UII ku bersuka cita (Ama, Syahrul rahimahullah, Itun, Fiqri, Fatchan, Bimo, Andi, dan anak-anak PBI 2016). Momen ini adalah titik balik dalam hidupku.
"Orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui keuslitan, tantangan, dan air mata." - unknown
Makasih kawan sudah menjadi bagian dari hidup Hanif! semoga kalian sukses! semoga kalian bahagia dimasa depan! Jazakumullahu khairan.
SEKITAR NOVEMBER 2020 DAN JANUARI 2021
Hanya satu yang kuingat, aku sempat tantrum kembali dua kali. Aku dibawa ke RS untuk di cek. Ternyata obat yang kuminum setiap hari mungkin efeknya kurang bagus, akhirnya dosis ditambah dan aku harus rutin minum obat. Sejujurnya aku tertib minum obat, aku juga tidak mengetahui kenapa bisa tantrum lagi. Semua takdir Allah.
SEKITAR OKTOBER 2021
Aku alhamdulillah bekerja di PKBM Abu Dzar. Ibu dan Bapak bersuka cita. (Untuk selengkap ceritanya bisa dibaca dipostinganku sebelumnya) Selama itu aku bahagia, Allah memutar balikan hidup ku seperti sedia kala. Mengajar bahasa Inggris adalah cita-citaku sejak lama. Aku bahagia masyaAllah bisa berbagi pengalaman bersama murid-murid, bercerita, mengajar, small talk and discussion. Alhamdulillah tidak ada gejala penyakit ku yang berarti, aku happy. Aku bertemu teman-teman guru hebat disana!
Oh ya untuk kabar penyakitku, aku setiap bulan selama 2021 akhir hingga 2024 (hari ini 22 Februari 2024) aku minum obat 2x sehari pada pagi dan malam hari. Konsul setiap sebulan sekali dengan dokter di RS tersebut dengan melalui daring. Terkadang aku juga mampir ke RS jika libur untuk kontrol. Konsentrasiku mulai bagus seiring berjalannya hari. Aku juga merasa sudah plong, sudah bisa berkarya, bisa mengajar dengan baik, dan bisa public speaking didepan anak-anak. Alhamdulillah, Allah 'Azza Wa Jalla heals me. Aku sudah diujung untuk sembuh alhamdulillah.
Alhamdulillah segala puji bagi Allah, aku mulai menata hidup secara sempurna seperti sedia kala. Aku bisa badminton, mengajar private anak-anak tetangga, bercanda dengan teman-teman kantor di PKBM Abu Dzar, bercerita bersama teman-teman, reuni dengan teman-teman TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah. Dan masyaAllah keajaiban-keajaiban lainnya. Mulai Maret 2024, aku sudah tidak perlu kontrol dan minum obat lagi. Sebuah keajaiban dari Allah kepadaku.
Itulah cerita yang bisa aku sampaikan.
Terima kasih sudah menyimak dengan baik.
Mohon maaf apabila ada kesalahan kata atau kesalahan penulisan.
Satu yang penting adalah jika kamu punya penyakit sama seperti aku, tetaplah berpikir positif tentang takdir ini bahwa Allah subhanahu wata'ala akan menyembuhkan dirimu lewat cara-cara yang indah. Bersabar, tetap berusaha, serta berdo'a kepada Allah agar menyembuhkan penyakit ini. Aku sampai sekarang pun senang sekali dikarenakan aku SANGAT YAKIN Allah akan menghapus dosa-dosaku melalui penyakit ini aamiin. Lakukan kegiatan positif terus menerus! Pantang menyerah! Ikuti saran dokter! minum obat yang teratur! Bekerja dengan baik! Serta selalu dan selalu bersabar akan gangguan.
Kepada teman-temanku di UII, PKBM Abu Dzar, atau teman yang tau aku mempunyai penyakit ini. Aku sangat-sangat berterima kasih atas saran-saran dan do'a baik kalian. Semoga Allah membalas kebaikan-kebaikan kalian. Jazakumullahu khairan. Kepada teman-teman PBI UII 2016, terima kasih telah menolongku disaat gentingnya aku KKN. Semoga Allah mudahkan urusan kalian.
Kepada para pembaca, bersabarlah atas ujian yang Allah berikan kepadamu. Allah mencintai hambanya dengan cara memberikan ujian. Ingat! "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji? (QS Al-Ankabut: 2). Bersabarlah dan bersabarlah. Allah pasti berikan jalan terbaik. Allah pasti akan menberikan jalan keluar dari setiap masalah yang ada. Jauhilah prasangka buruk tentang Allah, jauhilah pesimis karena datang dari setan. Semoga Allah mudahkan. Semoga cerita ini memberi inspirasi dan kekuatan.
Mungkin itu saja
Jazakumullahu khairan
.jpeg)

.jpeg)


.jpg)

.jpeg)

Comments
Post a Comment